UNTUK PENYETARAAN PENDIDIKAN INDONESIA, SAATNYA KEMENTRIAN PENDIDIKAN HARUS MILIKI SATELIT SENDIRI

- Editorial Team

Jumat, 24 Juli 2026 - 11:21 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

By : Dr. Suriyanto.Pd.,SH.,MH.,Mkn

Praktisi Hukum/Akademisi/Ketum PWRI

Jakarta- Indonesia Emas 2045 bukan sekadar slogan. Era tersebut adalah era taruhannya 280 juta rakyat. Tetapi sampai hari ini, kita masih berdebat soal hal mendasar: anak di Papua belum bisa zoom kuliah, guru di Kepulauan Sangihe belum bisa download modul, dan sekolah di pelosok NTT masih mengandalkan sinyal yang datang sebulan sekali. Kesenjangan ini bukan nasib. Ini kegagalan desain infrastruktur.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Fakta Geografis, kita negara kepulauan terbesar di dunia. 17.504 pulau, 514 kabupaten/kota, dan ribuan desa yang masuk kategori 3T: Terdepan, Terluar, Tertinggal. Memaksa 3T mengikuti ritme internet fiber optik Jawa-Bali adalah bentuk kolonialisme infrastruktur. Kita tidak bisa menyetarakan pendidikan dengan kabel yang tidak pernah sampai.

Era 4.0 Menuju 5.0. Revolusi Industri 4.0 menuntut data, AI, cloud, dan pembelajaran hybrid. Era 5.0 menuntut personalisasi pembelajaran berbasis data dan kolaborasi global real-time. Pertanyaannya sederhana: bagaimana mau bicara AI dan metaverse, kalau guru di Maluku Utara masih harus naik gunung demi 1 bar sinyal?

Akar Masalah Bukan Kurikulum. Selama ini kita sibuk ganti kurikulum, ganti platform, ganti aplikasi. Merdeka Belajar, Kampus Merdeka, PMM. Semua bagus di atas kertas. Tapi semua platform itu mati kalau tidak ada jalannya. Jalan itu namanya konektivitas. Dan konektivitas di 3T hari ini disewa, tidak dimiliki.

Baca Juga:  Unifying the World Through Soccer: The Global Impact of the World Cup

Tergantung Pihak Ketiga. Saat ini Kemendikbudristek menyewa bandwidth dari operator dan satelit komersial. Artinya nasib 50 juta siswa dan 4 juta guru ditentukan oleh harga, kuota, dan prioritas bisnis swasta. Saat terjadi bencana, saat anggaran dipotong, saat operator fokus ke kota besar, maka sekolah di perbatasan yang pertama kali diputus.

Pendidikan Bukan Komoditas, pendidikan adalah hak konstitusional. Pasal 31 UUD 1945. Negara wajib hadir. Masa iya hak dasar rakyat diserahkan ke mekanisme pasar? Tidak ada negara maju yang menyerahkan tulang punggung pendidikannya ke pihak ketiga. Amerika punya NASA. China punya Beidou. India punya GSAT untuk pendidikan.

Solusi Struktural: Satelit Milik Negara. Karena itu, Kemendikbud dan Dikti harus memiliki satelit sendiri. Bukan ikut numpang. Bukan sewa. Milik. Sepenuhnya dikendalikan untuk kepentingan pendidikan nasional. Ini bukan proyek prestis. Ini infrastruktur dasar, sama seperti membangun jalan dan jembatan.

Fungsi Utama Satelit Pendidikan. Satelit ini akan jadi backbone. Fungsinya: 1. Menyalurkan konten belajar nasional ke seluruh sekolah. 2. Menjadi backbone internet gratis untuk kampus dan sekolah 3T. 3. Menjadi jaringan tele-edukasi, tele-medicine untuk dosen dan guru. 4. Menjadi data center pendidikan yang aman dan berdaulat.

Menutup Kesenjangan Digital. Dengan satelit sendiri, tidak ada lagi alasan “sinyal susah”. Anak di Pulau Rote bisa ikut kelas dari UI secara live. Dosen di Universitas Cenderawasih bisa riset bareng MIT tanpa lag. Guru di pedalaman bisa akses AI tutor 24 jam. Inilah penyetaraan sejati. Bukan pemerataan gedung, tapi pemerataan akses ilmu.

Baca Juga:  KETUA PWRI JATIM : KAPOLRESTA SUMENEP BERI CONTOH BAIK KEMITRAAN POLRI DAN WARTAWAN

Dampak ke Kualitas Guru, guru adalah kunci. Hari ini 60% guru di 3T tertinggal pelatihan karena tidak bisa ikut webinar nasional. Dengan satelit pendidikan, pelatihan, sertifikasi, dan mentoring bisa dilakukan setiap minggu. Kita tidak lagi mengirim pelatih ke daerah. Kita dapat menghadirkan seluruh pusat pelatihan ke setiap kelas.

Dampak ke Riset dan Dikti. Perguruan tinggi di luar Jawa akan naik kelas. Akses ke jurnal internasional, superkomputer, dan kolaborasi riset tidak lagi terhambat bandwidth. Dikti bisa membangun “Kampus Nusantara Virtual” di atas satelit ini. 1 kurikulum, 1000 kampus, 1 kualitas.

Kedaulatan Data Pendidikan, data 50 juta siswa adalah aset negara yang paling strategis. Hari ini data itu lewat server milik asing. Besok harus lewat server dan satelit kita sendiri. Satelit pendidikan sama dengan kedaulatan data. Tanpa hal itu, AI pendidikan kita akan selalu “disewa” dan “diarahkan” oleh negara lain.

Efisiensi Jangka Panjang. Ya, membangun satelit mahal di awal. 3-5 triliun. Tetaapi jika kita bayangkan: kita sudah belasan tahun bayar sewa bandwidth ratusan miliar per tahun, hasilnya tidak merata. Dalam 10 tahun, satelit sendiri justru lebih murah, lebih cepat, dan tidak tergantung APBN tahunan.

Baca Juga:  Guruh Soekarnoputra Berpulang, Nusantara Kehilangan Penjaga Jiwa Kebudayaan

Domino Ekonomi. Ketika sekolah punya internet cepat dan stabil, maka UMKM desa bisa jualan online. Orang tua siswa bisa kerja dengan remote. Rumah sakit desa bisa telekonsultasi. Satu satelit pendidikan akan menghidupkan 10 sektor lain. Ini namanya multiplier effect.

Politik dan Diplomasi. Memiliki satelit pendidikan adalah pernyataan politik. Indonesia serius dengan SDM. Kita tidak lagi jadi “pasar” teknologi pendidikan, tapi jadi “produsen” ekosistem. Hal ini juga menjadi alat diplomasi: kita bisa bantu negara Pasifik dan ASEAN dengan layanan pendidikan berbasis satelit kita.

Tantangan dan Jalan yang harus ditempuh, tentu ada tantangan: SDM, regulasi, dan korupsi. Maka satelit ini harus dikelola BUMN khusus pendidikan, diawasi KPK, dan digandeng LAPAN/BRIN serta industri dirgantara nasional. Mulai 2026 desain, 2028 launching, 2029 semua sekolah 3T tersambung. Targetnya jelas: 100% sekolah terhubung sebelum 2030.

Indonesia Emas 2045 akan ditentukan 20 tahun ke depan. Kita mau jadi bangsa yang cerdas, atau bangsa yang terus tertinggal karena sinyal? Membangun satelit pendidikan bukan pilihan. Ini kewajiban. Karena negara sebesar Indonesia tidak boleh kalah hanya karena kabel. Saatnya Kemendikbud dan Dikti punya langitnya sendiri.

 

Facebook Comments Box

Penulis : Dr. Suriyanto.Pd.,SH.,MH.,Mkn

Editor : Redaksi

Sumber Berita: gempardata.com

Follow WhatsApp Channel gempardata.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Politik, Kesejahteraan, Ekonomi: Tiga Medan Ujian Wantimpres di Era Prabowo
MONOPOLI SYARIKAH HAJI 2027: UANG 11 TRILIUN UMAT JANGAN DIKELOLA DENGAN SYARIKAH ITU-ITU SAJA
Pembangunan Data Center, Dr. H. Sutrisno Tekankan Tanggung Jawab Usaha dan Perlindungan Masyarakat
Perkuat Pembangunan Desa, Kadis PUTR Sumenep Pimpin Rakor BKK P-APBD 2026
Madura Dan Masa Depan Investasi (Jangan Usir Peluang Dengan Sikap Dan Prilaku Ketidakpastian)
Pelukan Mesra Kapolsek Gapura Dengan Danramil Gapura Dalam Bingkaian Harmoni HUT Ke-81 TNI
Satresnarkoba Polresta Sumenep Ungkap Peredaran Okerbaya, 60 Pil Berlogo ” Y ” Diamankan
KSOP Kelas IV Kalianget Tanamkan Edukasi Maritim Terhadap Pelajar SMPN 2 Kalianget

Berita Terkait

Kamis, 15 Oktober 2026 - 21:39 WIB

Politik, Kesejahteraan, Ekonomi: Tiga Medan Ujian Wantimpres di Era Prabowo

Kamis, 15 Oktober 2026 - 18:45 WIB

MONOPOLI SYARIKAH HAJI 2027: UANG 11 TRILIUN UMAT JANGAN DIKELOLA DENGAN SYARIKAH ITU-ITU SAJA

Rabu, 14 Oktober 2026 - 00:04 WIB

Pembangunan Data Center, Dr. H. Sutrisno Tekankan Tanggung Jawab Usaha dan Perlindungan Masyarakat

Selasa, 13 Oktober 2026 - 13:04 WIB

Perkuat Pembangunan Desa, Kadis PUTR Sumenep Pimpin Rakor BKK P-APBD 2026

Kamis, 8 Oktober 2026 - 13:39 WIB

Pelukan Mesra Kapolsek Gapura Dengan Danramil Gapura Dalam Bingkaian Harmoni HUT Ke-81 TNI

Berita Terbaru

Berita

Jejak Leluhur Candi Dadi Wajak Kidul Tulungagung 

Rabu, 14 Okt 2026 - 17:02 WIB