Tulungagung-GemparData.com,- Di Wajak Boyolangu, Tulungagung Jawa Timur, terdapat sejumlah benda cagar budaya berupa candi maupun arca. Salah satunya adalah Candi Dadi yang berada di atas perbukitan.
Candi Dadi berada di puncak perbukitan Wajakkidul, Dukuh Mojo, Desa Wajakkidul, Kecamatan Boyolangu Tulungagung, dengan posisi ketinggalan 389 meter di atas permukaan laut (Mdpl).
Juru kunci Candi Dadi, Andi Pamuji mengatakan candi tersebut berbentuk bujur sangkar berdimensi 14X14 meter dengan tinggi 6,5 meter. Konstruksi candi berbahan batuan andesit. Uniknya pada bagian tengah terdapat lubang atau sumuran berdiameter 3,35 meter
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
“Candi ini unik dan satu-satunya di Indonesia. Posisinya di atas gunung (bukit) dan di tengahnya ada sumur,”. Tutur juru kunci.
Untuk menjangkau lokasi candi pengunjung harus melakukan pendakian sekitar satu jam, dengan melalui jalur di kawasan perbukitan.
Candi Dadi adalah situs purbakala unik peninggalan era Kerajaan Majapahit (abad ke-14 hingga ke-15 Masehi) yang berdiri kokoh di puncak Pegunungan Walikukun, tepatnya di Dusun Mojo, Desa Wajak Kidul, Kecamatan Boyolangu, Kabupaten Tulungagung.Berada di ketinggian sekitar 360 meter di atas permukaan laut (mdpl), situs purba ini menyimpan nilai spiritual tinggi sekaligus misteri yang memikat para peneliti sejarah.
Sejarah dan Latar Belakang Keagamaan
Pusat Keagamaan Akhir Majapahit: Berdasarkan kajian para arkeolog, Candi Dadi dibangun pada masa kejayaan hingga menjelang runtuhnya Kerajaan Majapahit. Candi ini didirikan sebagai tempat pemujaan sakral oleh kaum Rsi (pendeta kuno) yang bermukim di asrama keagamaan (karsyan) di sekitar perbukitan Wajak.
Tempat Ritual Pembakaran Jenazah: Keberadaan sumuran vertikal di bagian tengah atas candi memicu kesimpulan para ahli bahwa tempat ini dahulunya berfungsi sebagai altar upacara kurban (homa) atau tempat pengabuan/pembakaran jenazah para tokoh suci dan penguasa zaman dahulu.
Filosofi Ketinggian Pegunungan:
Pemilihan Pegunungan Walikukun didasarkan pada kosmologi Hindu-Buddha purba bahwa puncak gunung atau tempat yang tinggi adalah wilayah suci, paling dekat dengan surga, dan tempat bersemayamnya para dewa serta roh leluhur.
Karakteristik Arsitektur yang Unik Bentuk Tunggal Tanpa Relief: Berbeda dengan candi Majapahit pada umumnya yang berbahan bata merah dan penuh ukiran, Candi Dadi merupakan bangunan tunggal berbahan batu andesit berukuran besar tanpa relief hiasan sama sekali. Denah dasarnya berbentuk bujur sangkar berukuran 14×14 meter dengan struktur batur berundak yang membentuk denah salib segi delapan jika dilihat dari atas.Bagian dari Kompleks 4 Candi:
Candi Dadi sebenarnya tidak berdiri sendiri. Laporan arkeologi masa kolonial Belanda (ROD 1915) mencatat terdapat deretan empat candi dari kaki bukit hingga puncak tertinggi, yaitu Candi Urung (Bubrah), Candi Buto, Candi Gemali, dan puncaknya adalah Candi Dadi. Namun saat ini, tiga candi lainnya telah runtuh total dan hanya menyisakan tumpukan batu, sementara hanya Candi Dadi yang masih berdiri kokoh.
Bagian Atas yang Misterius:
Bentuk atas candi yang datar dan berlubang memunculkan dua teori ilmiah; ada arkeolog yang menduga candi ini sengaja tidak diselesaikan (belum rampung), namun ada pula yang meyakini bagian atas tersebut merupakan fondasi dasar dari sebuah stupa besar yang kini telah runtuh.
Legenda Rakyat Setempat
Di kalangan masyarakat Wajak Kidul, asal-usul candi ini kerap dikaitkan dengan mitos lokal yang mirip dengan kisah Roro Jonggrang. Konon, candi-candi di pegunungan tersebut dibangun oleh seorang pangeran sakti dalam waktu semalam sebagai syarat lamaran dari seorang putri. Berkat tipu daya sang putri yang memalsukan suasana pagi hari, fajar buatan tersebut membuat sang pangeran gagal menyelesaikan seluruh candi. Akibatnya, tiga candi runtuh (menjadi Candi Urung/Gagal) dan hanya satu candi yang berhasil diselesaikan secara sempurna, yang kemudian dinamakan Candi Dadi (dalam bahasa Jawa, “Dadi” berarti “Jadi/Selesai”).
Status Konservasi Saat Ini :
Candi Dadi merupakan salah satu cagar budaya terpenting di Tulungagung. Mengingat nilai sejarahnya yang luar biasa dan struktur arsitekturnya yang langka, situs ini telah resmi ditetapkan sebagai Cagar Budaya Peringkat Nasional. Untuk mencapainya, pengunjung kini dapat memanfaatkan jalur tangga berundak yang dikenal sebagai Tangga Sewu Boyolangu sebelum melakukan trekking santai menembus kawasan hutan lindung menuju puncak bukit yang tidak bisa diakses dengan kendaraan, harus jalan kaki.
Terbentuknya Candi Dadi masih misterius hingga saat ini Karena tidak ada bukti prasasti maupun petunjuk yang jelas untuk menunjukkan masa pembangunan dan pemanfaatan candi itu.
“Kalau zamannya secara kajian arkeologi adalah masa Hayam Wuruk karena kekayaannya Majapahit salah satunya kala Hayam Wuruk. Di masa itu sekitar Boyolangu terdapat Candi Gayatri dan Candi Sanggrahan yang dibuat pada masa yang sama,” jelasnya.
Akan tetapi di sisi selatan Boyolangu juga terdapat cagar budaya berupa Gua Pasir, Gua Selomangleng dan Gua Tritis. Gua tersebut diduga merupakan peninggalan masa karesian antara abad 6-7 atau pada era Mataram Kuno.
“Di Gua Selomangleng itu rentetannya di masa Erlangga karena reliefnya Arjuna Wiwaha. Tetapi reliefnya itu ada ciri khas Majapahit ada cakranya. Bisa jadi Selomangleng itu lintas masa pemanfaatannya atau dilestarikan dari masa ke masa,” imbuhnya.
Dengan berbagai bukti cagar budaya yang ada di sekitar Boyolangu, Candi Dadi diperkirakan berdiri pada abad ke 14-15 M saat kekuasaan pemerintahan Raja Hayam Wuruk, di masa suram bagi kehidupan agama Hindu-Budha.
Kala itu penyebaran agama Islam mulai terjadi, sehingga sejumlah penganut Hindu-Budha memilih menjauhkan diri dari pertikaian pada masa suram Majapahit. Upaya itu juga dilakukan agar mereka dapat menjalankan agamanya dengan tenang.
“Posisi Candi Dadi berada di atas puncak bukit, ini juga sesuai dengan keyakinan masyarakat penganut budaya Hindu yang memanfaatkan puncak-puncak gunung untuk meletakkan bangunan sucinya,” kata Andi.
Selain menjadi tempat pemujaan Candi Dadi juga berfungsi sebagai tempat pengabuan atau pembakaran jenazah tokoh penguasa.
Sejarah Candi Dadi yang berada di Desa Wajakkidul, Kecamatan Boyolangu, Tulungagung hingga kini masih menjadi misteri. Namun berdasarkan cerita rakyat, candi ini memiliki kisah mirip Roro Jonggrang dan Bandung Bondowoso.
Juru Pelihara Candi Dadi, Andi Pamuji mengatakan penelusuran sejarah Candi Dadi yang dilakukan sejak era penjajahan belum berhasil mendapatkan petunjuk pasti berupa prasasti atau benda lain yang dapat menceritakan asal muasal candi. Saat ini untuk memperkirakan sejarah candi itu, hanya didasarkan dari bangunan-bangunan benda cagar budaya yang ada di sekitarnya.
Di sisi lain, keberadaan sebuah candi selalu diiringi dengan cerita rakyat atau folklor secara turun-temurun, tak terkecuali dengan Candi Dadi. Dari cerita tutur yang berkembang, candi di puncak perbukitan tersebut konon bermula dari adanya seorang pangeran yang hendak melamar seorang putri dari Kediri.
“Sang putri pun mengajukan syarat kepada pangeran itu, agar bisa menikah dengannya. Putri meminta agar pangeran membangun sembilan candi dalam waktu satu malam,” kata Andi
Tak hanya sekadar candi biasa, sang putri menginginkan seluruh candi dibangun di atas bukit. Sang pangeran pun menyanggupi persyaratan yang diajukan putri itu.
Konon, pangeran pun langsung memulai pembuatan sembilan candi tersebut di lereng perbukitan Wajak sisi selatan. Namun di tengah kesibukannya membangun candi, tiba-tiba suasana di sekitarnya berubah menjadi terang, ayam pun berkokok bersahutan.
“Kemudian juga terdengar suara orang-orang menumbuk padi,” ujarnya.
Sang pangeran pun terkejut, karena perubahan itu menandakan jika malam hari telah berganti menjadi pagi. Namun akhirnya sang pangeran mengetahui akal bulus sang putri jika suasana yang tercipta hanya tipuan belaka. Semua adalah ulah dari sang putri yang memerintahkan warga untuk membakar jerami dan menumbuk padi untuk menciptakan seolah-olah hari telah pagi.
Tujuannya agar sang pangeran gagal membuat sembilan candi yang dipersyaratkan oleh putri. Ulah sang putri pun berhasil menggagalkan pembuatan candi. Dari sembilan yang diminta hanya mampu dibangun empat candi yakni Candi Dadi, Candi Urung, Candi Gemali, dan Candi Butho.
“Pangeran pun akhirnya marah dan mengutuk dengan berkata gadis-gadis di daerah itu tidak akan menikah sebelum berusia tua. Tapi itu hanya mitos. Konon daerah itu kini bernama Kedungjalin,” imbuhnya.
Andi menambahkan folklor tersebut merupakan cerita mitos yang berkembang di masyarakat dan menjadi sebuah legenda. Sedangkan sejarah pasti mengenai peradaban Candi Dadi hingga kini masih belum terungkap karena tidak ada bukti sejarah yang dapat mendukung. Hanya saja dari analisa oleh arkeolog, candi itu dibangun era Majapahit pada masa Hayam Wuruk.
Selain menjadi tempat pemujaan Candi Dadi juga berfungsi sebagai tempat pengabuan atau pembakaran jenazah tokoh penguasa.
Andi Pamuji menambahkan tahun ini Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) Jawa Timur mengusulkan Candi Dadi menjadi benda cagar budaya peringatan nasional.
“Kemungkinan tahun 2025 Candi Dadi akan jadicagar budaya nasional,” tandasnya.(Fikri)
Penulis : Gus Fikri
Editor : Redaksi
Sumber Berita: Andi (juru kunci)












