JANGAN HANYA WACANA SAJA, PRESIDEN AKAN STOP PASOKAN GAS KE SINGAPURA

- Editorial Team

Sabtu, 24 Oktober 2026 - 19:23 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Jakarta-GemparData.com.- Wacana itu kembali berhembus dari Istana. Presiden sedang mempertimbangkan untuk menghentikan aliran gas ke Singapura. Sebuah kalimat yang terdengar hati-hati, diplomatis, dan penuh kalkulasi. Kalimat yang bagi telinga rakyat terdengar terlalu lama dan terlalu lunak untuk sebuah keputusan yang seharusnya sudah diambil puluhan tahun lalu.

Sebenarnya apa yang perlu dipertimbangkan? Tidak perlu dipertimbangkan. Stop saja. Hentikan saja. Itu adalah hak mutlak rakyat Indonesia. Gas itu milik rakyat Indonesia, ada di perut bumi Indonesia, diperjuangkan dengan darah dan keringat bangsa Indonesia, bukan milik segelintir elit yang merasa berhak menjualnya dengan harga murah kepada negara lain.

Untuk apa kita menjual gas ke negara cangkang yang selama ini menginjak-injak harga diri bangsa Indonesia? Pertanyaan ini bukan retorika kosong. Ini adalah jeritan hati rakyat yang sudah muak melihat kekayaan alamnya dijual murah ke negara yang justru menjadi tempat persembunyian para perampok kekayaan itu sendiri.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Singapura hidup dari gas Indonesia. Pembangkit listriknya menyala karena gas dari Natuna dan Corridor Blok di Sumatera. Industri petrokimianya berjalan karena pasokan dari Indonesia yang harganya jauh lebih murah dibandingkan harga pasar internasional. Sementara itu, rakyat di Kepulauan Riau, di Sumatera, bahkan masih ada yang kesulitan mendapatkan gas untuk kebutuhan industri kecil mereka.

Baca Juga:  Pelukan Mesra Kapolsek Gapura Dengan Danramil Gapura Dalam Bingkaian Harmoni HUT Ke-81 TNI

Ironi yang menyakitkan. Kita menjual energi kita dengan harga diskon kepada negara yang PDB per kapitanya 10 kali lipat lebih besar dari kita. Kita mensubsidi kemakmuran Singapura, sementara Singapura mensubsidi kenyamanan para koruptor yang membawa lari uang hasil gas itu. Inilah lingkaran setan yang harus diputus oleh Presiden.

Jika Presiden masih mempertimbangkan, maka pertimbangkanlah fakta ini. Setiap meter kubik gas yang kita kirim ke Singapura adalah satu meter kubik pengkhianatan terhadap amanat konstitusi. Pasal 33 UUD 1945 dengan jelas mengatakan bumi, air, dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat. Bukan untuk kemakmuran rakyat Singapura.

Jangan lagi kita terjebak dalam doktrin lama bahwa kita harus menjadi pemasok yang terpercaya, bahwa kontrak harus dihormati. Kontrak apa yang harus dihormati jika kontrak itu dibuat di era di mana posisi tawar Indonesia lemah? Kontrak apa yang harus dihormati jika negara pembeli justru menjadi musuh dalam selimut yang menampung hasil kejahatan dari penjualan kekayaan itu?

Baca Juga:  1000 Kampung Nelayan, Bukti Negara Hadir, Dari Pesisir Miskin Jadi Pusat Ekonomi

Singapura adalah negara cangkang. Ia tidak punya sumber daya alam. Ia tidak punya gas, tidak punya minyak, tidak punya hutan. Ia hidup dari menjadi makelar, menjadi penadah, menjadi pelabuhan bagi kekayaan orang lain. Dan selama puluhan tahun, ia hidup makmur dari memelintir harga gas Indonesia.

Sudah saatnya Presiden menunjukkan ketegasan seorang pemimpin negara besar. Bukan ketegasan dalam wacana, bukan ketegasan dalam pertimbangan, tetapi ketegasan dalam keputusan. Ketok palu. Stop pasokan gas ke Singapura. Titik.

Dampaknya? Singapura akan kelabakan. Itu pasti. Harga listrik mereka akan naik 30 hingga 40 persen. Industri mereka akan menjerit. Inilah saat yang tepat untuk menunjukkan kepada mereka bahwa tanpa Indonesia, Singapura hanyalah titik kecil yang gelap di peta dunia.

Mereka akan mengancam akan membawa kasus ini ke arbitrase internasional. Silakan. Indonesia adalah negara berdaulat. Kita tidak akan kalah di forum apapun jika kita berbicara atas nama kepentingan nasional dan kedaulatan energi. Dunia akan memahami bahwa tidak ada negara yang wajib menjual kekayaannya sendiri untuk memperkaya negara lain yang tidak tahu berterima kasih.

Jika pasokan gas ke Singapura di-stop, ke mana gas itu akan dialihkan? Jawabannya ada di dalam negeri. Alirkan gas itu untuk hilirisasi industri di dalam negeri. Bangun pabrik petrokimia di Bintan, di Dumai, di Kalimantan. Ciptakan lapangan kerja bagi anak-anak bangsa. Bangun jaringan gas untuk rumah tangga di seluruh Sumatera dan Jawa. Itu baru namanya keadilan energi.

Baca Juga:  Harusnya Lintas Penegak Hukum Bersatu Melawan Oknum Koruptor, Jangan Terpecah Demi Bangsa

Jangan lagi kita menjadi bangsa yang bangga karena bisa mengekspor bahan mentah. Itu adalah mentalitas kolonial, mentalitas kuli. Bangsa besar adalah bangsa yang mengolah kekayaannya sendiri, yang menikmati nilai tambahnya sendiri, yang tidak membiarkan negara cangkang menikmati margin keuntungan terbesar.

Presiden memiliki momentum sejarah di tangannya. Di saat hubungan kedua negara sedang tidak baik-baik saja karena persoalan asap, persoalan penempatan dana haram, dan persoalan harga diri bangsa, keputusan untuk stop gas ke Singapura akan dicatat sebagai keputusan paling patriotik dalam satu dekade terakhir.

Rakyat tidak butuh Presiden yang terus mempertimbangkan. Rakyat butuh Presiden yang bertindak. Karena setiap hari penundaan adalah setiap hari di mana harga diri bangsa ini terus diinjak-injak.

Stop wacana. Stop pertimbangan. Stop aliran gas ke Singapura sekarang juga.

 

Oleh, Dr. Suriyanto., SH., MH , M. Kn

*) Praktisi Hukum/Ketum PWRI

Facebook Comments Box

Penulis : Ridwan

Editor : Redaksi

Sumber Berita: Suriyanto

Follow WhatsApp Channel gempardata.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

OPERASI SIKAT SEMERU 2026: POLRESTA SUMENEP UNGKAP 9 KASUS DAN AMANKAN 10 TERSANGKA
HUT ke-5 PKN di Gunung Padang, Gede Pasek Bidik Pemilu 2029: “Kita Harus Berhasil
Paradigma Baru, Wujudkan Mako Lebih Bersih Dan Asri Melalui Green Policing , Begini Pesan Kapolresta Sumenep 
Aman, 235 Penumpang KM Sabuk Nusantara 91, Gegara Insiden Kebakaran Diatas Kapal, Begini Kata Kepala KSOP Kelas IV Kalianget 
Ageng Dendy Dorong Konsolidasi Pemuda, Satukan Langkah Menuju Indonesia Emas 2045
Sehari Menjelang Prosesi Arya Wiraraja, Bupati Sumenep Dapat Dua Kado Istimewa
PA GMNI Perkuat Wacana Kebangsaan, Pramono Anung Dijadwalkan Berorasi Hari Ini
Soekarwo: Indonesia Emas 2045 Butuh Kepemimpinan Berintegritas dan Supremasi Hukum

Berita Terkait

Sabtu, 24 Oktober 2026 - 19:23 WIB

JANGAN HANYA WACANA SAJA, PRESIDEN AKAN STOP PASOKAN GAS KE SINGAPURA

Jumat, 23 Oktober 2026 - 21:59 WIB

OPERASI SIKAT SEMERU 2026: POLRESTA SUMENEP UNGKAP 9 KASUS DAN AMANKAN 10 TERSANGKA

Jumat, 23 Oktober 2026 - 16:25 WIB

HUT ke-5 PKN di Gunung Padang, Gede Pasek Bidik Pemilu 2029: “Kita Harus Berhasil

Jumat, 23 Oktober 2026 - 10:12 WIB

Paradigma Baru, Wujudkan Mako Lebih Bersih Dan Asri Melalui Green Policing , Begini Pesan Kapolresta Sumenep 

Selasa, 20 Oktober 2026 - 07:31 WIB

Aman, 235 Penumpang KM Sabuk Nusantara 91, Gegara Insiden Kebakaran Diatas Kapal, Begini Kata Kepala KSOP Kelas IV Kalianget 

Berita Terbaru