oleh

Obrigado Korps Adhyaksa

Oleh: Sulaisi Abdurrazaq
(Direktur LKBH IAIN Madura)

_”Dalam keadaan terbaik, manusia adalah binatang paling mulia. Tapi, bila dipisahkan dari hukum dan keadilan, manusia adalah yang terburuk”._

https://gempardata.com/

( Aristoteles, Filsuf Yunani)

MENGAPA kita harus bergerak? karena harapan dan rasa kemanusiaan tidak boleh punah oleh sikap pasif dan kematian batin.

Karena kita harus mencegah kerusakan psikis yang lebih tragis. Penyebab diri tak berdaya melawan jahatnya birokrasi yang tamak.

Kekuasaan dengan kewenangan yang dominan dan menindas, memeras, meruntuhkan wibawa negara dan institusi kebanggaan.

Sebelum keserakahan digdaya, sebelum “hantu” di tengah-tengah kita semakin leluasa melempar seragam cokelat ke tong sampah, terpaksa kami menekan tombol bom nuklir bertajuk “Jaksa Pengkhianat” (29/05/22) yang berkelebat lalu menyambar meja kerja Kejaksaan Agung.

Begitulah cara kami menambah bobot harapan kepada Kejaksaan. Menanam bibit-bibit integritas, agar bibir kita tak kelu menyuarakan kebenaran.

Selama ini, Kejagung benar-benar telah bekerja keras memperbaiki sistem. Tetapi, “hantu” di tengah-tengah kita telah mengilusi publik tentang makna integritas.

Zona Integritas yang didorong secara sinergi dan kolosal oleh Pemerintah, terbentur tembok yang dibangun “hantu-hantu, yang lalu menjelma menjadi para pengkhianat Adhyaksa.

Bangsa ini, bersama dengan negara, harus bekerja lebih keras untuk melawan keraguan yang lebih besar terhadap integritas penegakan hukum.

Karena, sekeras apapun Korps Adhyaksa bekerja untuk menguatkan integritas Kejaksaan, pasti roboh seketika jika perkara dijadikan ladang untuk menambah pundi haram yang meresahkan.

Prof. Mahfudz MD pernah bilang, kalau kita bicara hukum, hukum itu sudah terlepas dari sukmanya,”. Itu kata Prof. Mahfud MD dalam acara ‘Perkembangan Situasi Aktual Politik, Hukum, dan Keamanan’ di Universitas Gadjah Mada, dikutip pada Sabtu 5 Juni 2021.

Menurutnya, hukum yang baik adalah yang menerapkan nilai-nilai dari agama, kesopanan, dan kesusilaan.

Selain itu, pada kesempatan lain, Jaksa Agung Sanitiar Burhanuddin menyatakan, setiap insan kejaksaan harus mengedepankan integritas dan loyalitas sebagai standar minimum dalam menjalankan tugas, fungsi, dan wewenang. Jika ada yang menjadi benalu, Pak Burhanuddin menyatakan tidak akan segan-segan untuk memecat.

Dalam kasus Jaksa di Kejari Sumenep. Kira-kira, kemana aliran duit hasil perasan sebenarnya.

Kalau untuk kepentingan satu atau dua buah perut saja, saya kira akan berlebih. Malah, bisa “meledakkk boommmah” itu perut, karena asupan yang terlalu berlebih.

Itu hanya sebuah pertanyaan. Belum ada yang bisa menjawab.

Lepas dari semua itu, kami berterimakasih kepada:

1. Rekan-rekan jurnalis, yang gigih, persisten dan sabar mengawal suara protes yang agak memaki.

2. Polres Sumenep yang mampu bekerja dengan SOP yang kokoh dan disiplin yang kuat.

3. Rekan-rekan Barisan Penegak Keadilan (BPK), yang bersedia memberi catatan hitam _(black note)_ terhadap oknum jaksa nakal di Kejari Sumenep.

4. Rekan-rekan advokat LKBH IAIN Madura yang meluangkan waktu di tengah kesibukan, memberi pendampingan secara gratis ketika meluap gerakan protes.

5. _Civil society,_ pegiat media sosial WhattAps, tweeter, Facebookers, YouTubers, dan lain-lain. _Obrigado._

Secara khusus, untuk Kejaksaan Agung, Kejaksaan Tinggi Jawa Timur, Kejaksaan Negeri Sumenep yang telah sigap dan cepat merespon masalah jaksa nakal.

Kalian luar biasa. Karena itu, kami ucapkan: – – MUITO OBRIGADO KORPS ADHYAKSA -.
Penulis : Sulaisi Abdurrazaq

https://gempardata.com/