oleh

Jelang Ramadhan, Masyarakat Blumbungan Pamekasan Persiapkan Lomba Musik Patrol Tampor Bukoh

PAMEKASAN, Gempardata.com — Pasti banyak yang belum tahu yang namanya kesenian musik patrol, kesenian ini memang tidak seterkenal kesenian daerah lain, namun kesenian tersebut sudah jadi seni budaya madura. Kesenian ini sifatnya ‘musiman’ alias tidak bisa ditemui setiap hari, karena kesenian ini hanya muncul pada saat bulan ramadhan saja. Hal itu dilakukan untuk membangun warga pada saat sahur.

Musik patrol itu sendiri adalah musik seni yang di mainkan bersama – sama, alatnya terbuat dari bambu yang dilubangi, dan warga setempat mengenal tong – tong (dalam bahasa madura), namun dengan seiringnya waktu tong – tong sederhana itu sendiri dibuat berbagai macam ukuran sehingga menimbulkan bunyi khas tong – tong dengan nada yang berbeda.

https://gempardata.com/

Seperti yang dilakukan warga Dusun kendal danTambak sari, Desa Blumbungan, Kecamatan Larangan, Kabupaten Pameksan, mereka berkumpul ke jalan berpatroli mengelilingi dusun tersebut dengan di kawal 4 orang, sambil bernyanyi dan menari, sehingga banyak warga dan anak kecil keluar rumah demi melihat musik patrol yang di lakukan pemuda dengan berjumlah lima belas orang.

“Sebenarnya kami bukan bermaksud mengganggu warga sekitar disini, namun kami berlatih untuk persiapan lomba yang di adakan Pemkab Pamekasan dalam rangka penyambutan bulan suci ramadhan pada tanggal 27 April 2019” kata Samsuri Ketua Musik Patrol Tampor Bukoh.

“Tujuan lomba itu untuk menghidupkan kembali musik patrol karena merupakan kesenian madura yang telah terkikis oleh kemajuan jaman” tambah Samsuri pada Gempardata.com saat menyaksikan anak didiknya berlatih, Selasa (23/4/2019).

Sementara itu Ahmad Rofi’i warga yang sedang berhenti sejenak di pinggir jalan juga mengatakan kalau sekarang ini musik patrol sudah jarang ada, sebab banyak berganti dengan musik ul – daul yang sedang diminati dan membutuhkan dana yang besar.

“Sekarang ini dik musik patrol semacam ini sudah kurang diminati, tidak seperti waktu saya masih muda dulu, kalau saya masih muda dulu hampir setiap dusun di desa mempunyai grup masing – masing dan setiap tujuh belas agustus hari kemerdekaan indonesia selalu diadakan lomba meski kami selalu kalah tapi kami bahagia” katanya sambil bernostalgia.

Dirinya juga menambahkan kalau kesenian semacam ini harus di lestarikan supaya tetap ada, agar anak – anak tidak terjerumus dalam pergaulan yang bebas, apalagi dengan kemajuan teknologi yang kian berkembang pesat sampai ketingkat pedesaan sekarang ini. (Sgk/Hmd/why)

https://gempardata.com/