oleh

ARTIKEL: Akal Tuhan Yang Terbatas

Oleh: Moh. Muhlis
Mahasiswa STKIP PGRI Sumenep

Manusia merupakan makhluk ciptaan Tuhan yang diciptakan dengan bentuk dan rupa yang paling sempurna dibandingkan dengan makhluk hidup lainnya. Selain itu, manusia juga dibekali oleh Tuhan dengan sebuah akal yang merupakan pembeda dengan makhluk hidup lainnya, karena manusia bisa berpikir akan suatu hal, baik yang menyangkut dengan dirinya sendiri maupun yang berada di luar darinya. Manusia dari segi pandangan pancasila disebut dengan makhluk monodualistik yang diciptakan secara perseorangan, akan tetapi walaupun demikian manusia tetap membutuhkan bantuan orang lain dan tidak bisa hidup tanpa berinteraksi dengan sesamanya (Musaheri, 2004 : 3).

Maka pantaslah jika Aristoteles (384-322 SM) menyebut manusia sebagai makhluk Zoon Politicon atau yang sering kita kenal dengan sebutan makhluk sosial (C.S.T Kansil, 1984 : 29). Maka oleh sebab itu, dalam menempuh hidupnya manusia harus selalu berdampingan dengan manusia yang lainnya. Manusia itu sendiri diciptakan oleh Allah swt. tiada lain sebagai khlalifah atau pemimpin di bumi sebagaimana yang tercantum dalam al quran (Q.S Al baqarah (2) ayat 30).

Karena itulah, manusia hendaknya dalam perjalanan hidupnya, terutama dalam mengeksploitasi alam sebagai upaya untuk pemenuhan kebutuhan hidup yang esensial harus bisa sebijak dan seaarif mungkin dalam memanajemen alam untuk manusia bertahan hidup.

Maka oleh sebab itu, untuk bisa menjadi manusia yang seutuhnya dan berjiwa tangguh sehingga tidak mudah terombang-ambing oleh arus zaman adalah harus menjadi manusia yang memiliki keteguhan pada intelektualitas dan spiritualitasnya yang tinggi. Karena ilmu pengetahuan dan agama adalah dua hal yang eksistensinya esensial dan harus ada dalam diri manusia.

Sebagaimana seperti yang dikatakan oleh Albert Einstein 1870 yang mengatakan The science without religion is lame, religion without science is blind bahwa harus ada kesinambungan antara dua hal tersebut untuk bisa mengonsolidasikan jiwa manusia menuju insan seutuhnya dalam kehidupan ini (Sodiq, Mochammad, 2013 : 10).

Bahwa antara agama dan akal dalam agama islam merupakan dua hal yang selalu beriringan eksistensinya. Sebab, akal tidak bisa berdiri sendiri tanpa adanya agama mengingat pada akal manusia yang masih memiliki keterbatasan akan suatu hal yang sifatnya transendental atau absurd, sedangkan akal manusia itu sendiri hanya bisa mencerap dan menyerap suatu hal yang secara visual konkret.

Terlepas dari itu semua, merupakan suatu hal yang sulit untuk bisa dipahami oleh akal manusia sebab akal bukanlah merupakan suatu hal bisa dijadikan sebagai prioritas patokan dalam setiap menelaah maupun menalar sesuatu tentang apakah kebenaran pasti maupun nisbi.

Berbicara tentang akal, tentunya tidak akan pernah lepas dari rasionalitas karena manusia dalam kehidupan sehari-hari akalnya tidak pernah lepas dari yang namanya berpikir secara logis, sehingga kegiatan tersebut melahirkan hal yang disebut dengan rasional.

Manusia disebut sebagai mahkluk yang rasional karena dalam melakukan sesuatu tidak pernah terlepas dari apa yang dipikirkannya. Sehingga timbullah suatu paham yang disebut dengan Rasionalisme yang pelopor utamanya adalah Rene Descartes (1596-1650) dengan kata-katanya yang sangat terkenal pada masanya yaitu Cogito ergo sum yang artinya Saya berpikir maka saya ada (Endang Saifuddin, H.Anshari.1986 : 4).

Paham yang demikian cenderung menuhankan akal sebagai pusat dari segala kebenaran tanpa melihat aspek keterbatasan akal terhadap suatu hal yang sifatnya transendental ataupun mistik. Paham ini juga menilai segala sesuatu selalu berdasarkan pada akal. Sehingga seorang ilmuan seperti J.Verkuyl berpendapat bahwa seharusnya bukan “Saya berpikir maka saya ada”, akan tetapi dia mengatakan Deus est ergo sum yang artinya Tuhan ada maka akupun ada. Sekaligus hal yang demikian juuga dikritik oleh Jolivet dengan berkata Ceneest past parce que je pense que je suis, mais ceest parce que je suis je pense yang artinya bukan karena aku berpikir aku ada, melainkan aku ada maka berpikir (H.Anshari Endang Saifuddin.1986 : 45).

Beberapa spekulatif mungkin sering terlontar bahwa terdapat pemisahan antara eksistensi akal dan agama dalam diri manusia. Namun, dalam kenyataannya hal yang demikian tidaklah benar karena orang yang berakal belum tentu tidak beragama dan juga sebaliknya bahwa orang yang beragama belum tentu juga tidak berakal, karena menurut aliran teologi islam yaitu paham Ahlus sunnah wal jamaah tepatnya oleh Abu Hasan Al Asyari mengatakan bahwa manusia itu bisa tahu akan baik dan buruk bukan semata-mata karena akal, akan tetapi juga wahyu (Masud, Masdar, 1991 : 42). Dengan wahyu, akal manusia bisa terstimulasi untuk mengetahui hakikat mengenai kemutlakan yang baik dan yang buruk menurut Tuhan.

Maka oleh sebab itu, antara agama dan akal adalah dua hal yang harus saling berkesinambungan untuk nantinya bisa mengetahui akan hakikat kebenran yang sesungguhnya. Agama merupakan dogma yang mutlak kebenarannya dan bersifat absolut, sedangkan akal adalah instrumen yang sifatnya relatif dan berguna untuk bisa memanifestasikan dogma agama yang sudah tertulis, sekaligus mengungkap akan sebab adanya instruksi dibalik dogma agama tersebut. Supaya manusia tidak menjadi umat yang selalu taqlid atau ikutan-ikutan tanpa mengetahui kebenarannya yang nyata.

Sehingga akal dalam hal ini berusaha sesuai kapasitas dan kapabilitasnya untuk merasionalkan dogma agama. Namun yang perlu digaris bawahi di sini yaitu dogma yang bisa masuk akal, terlepas dari yang demikian seperti halnya sesuatu yang abstrak, maka akal tidak akan bisa menalar hal tersebut, maka manusia tetap harus percaya akan dogma agama tersebut. Sehingga dengan demikian akal timbul kesimpulan yang fundamental bahwa imparsialitas dogma agama ada yang bisa dinalar oleh akal dan sebagian yang lain bersifat transendental sehingga tidak bisa dijangkau semata-mata dengan akal manusia. [*]

kangen

Berita Terbaru