Indonesia Mau Seperti Kuba? Sekolah SD Hingga S3 Gratis Itu Bisa, Asal Negara Berhenti Berbohong

- Editorial Team

Minggu, 12 Juli 2026 - 13:30 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

By: Dr. Suriyanto. Pd., SH., MH., Mkn.
Praktisi Hukum/ Akademisi/ Ketum PWRI

Jakarta – Tiap UKT naik, rakyat bertanya: “Kapan kuliah gratis?”bisa berjalan. Jawabannya selalu muter-muter: “Anggaran terbatas”. Padahal Kuba yang diblokade 60 tahun saja bisa. Argentina bisa. Jerman bisa. Masa Indonesia kalah?

Fakta telanjang sangat jelas: Di Kuba, sekolah sampai S3 gratis. Asrama gratis. Buku gratis. Dokter lulusannya dikirim ke seluruh dunia. Kuncinya satu: Negara menganggap pendidikan sebagai urat nadi, bukan beban APBN.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Lalu kita? APBN kita dialokasikan hanya 3,6% untuk pendidikan. Dari target 20% di UUD, yang nyampe ke kelas cuma ampasnya. Sisanya? Bocor. Dikorup. Diproyekkan.

Negara Jangan munafik. Sebenarnya Kita bukan miskin. Kita salah memprioritaskan. Buktinya IKN 466 Triliun ada. Kereta cepat 100 Triliun sanggup. Korupsi Ribuan Triliun, Tapi buat nyekolahin anak bangsa, negara bilang “nanti dulu”. Ada apa Negara ini?

Baca Juga:  Ketum PWRI DR. Suriyanto : UU Perampasan Aset Adalah Kunci Emas Menuju APBN Gemuk dan Rakyat Makmur!

Hitung sendiri. 9 juta mahasiswa aktif. Subsidi per anak 20 juta/tahun. Total butuh 180 Triliun. Uang segitu? Sama dengan 1 tahun subsidi energi yang 80% dinikmati orang kaya. Sama dengan uang korupsi 2024 yang 237 Triliun.

“Jadi masalahnya bukan “tidak ada uang”. Masalahnya: uangnya dipakai buat yang lain. Dipakai buat bancakan. Dipakai buat proyek yang mangkrak”.

“Tapi Kuba otoriter!” Betul. Di Kuba tidak ada kampus swasta. Dosen PNS semua. Lulusan wajib mengabdi. Kebebasan dibatasi”.

“Pertanyaannya: Kita mau pilih mana? Gratis tapi dikekang, atau bayar mahal tapi bebas tapi bodoh”?

“Kita tidak perlu jadi Kuba. Kita tetap harus jadi Indonesia. Model kita: GRATIS, BERMUTU, BERDAULAT”.

Caranya? Hentikan dongeng “gratis untuk semua”. Yang kaya jangan digratiskan. Anak pejabat jangan digratiskan. Fokus: 40% rakyat bawah dan anak tidak mampu yang pintar.

Bedah total skemanya: Untuk KIP Kuliah naikan 3 kali lipat. Jangan tiap tahun dipotong. Itu bukan bantuan, itu investasi. PTN BH wajib 20% kursi gratis. Awasi. Jangan sampai kursi “miskin” dijual 200 juta ke anak pejabat. UKT hapus. Balikin subsidi silang. Si kaya bayar mahal. Si miskin nol rupiah.

Baca Juga:  MEMBUKA MATA PUBLIK: RAKYAT DIPERAS PAJAK, SDA DIKERUK ASING: INI NEGARA UNTUK SIAPA?

Tapi gratis tanpa syarat itu bunuh diri. Syarat pertama: Sikat korupsi kampus. Dana BOPTN, dana riset, uang pembangunan. Itu ladang basah Oknum rektor dan Yayasan nakal. Bersihkan dulu baru minta duit ke rakyat.

Syarat kedua: Muliakan dosen. jangan S3 digaji 4 juta. Pantas kalau mereka sibuk cari proyek, bukan riset. Mau punya profesor kelas dunia? Bayar seperti kelas dunia, jangan kelas UMR.

Syarat ketiga: Lulusan harus kerja. Jangan cetak sarjana pengangguran. 1,5 juta sarjana nganggur itu bukti negara gagal. Kampus wajib link dengan industri. Lulusan langsung bisa bekerja.

Lihat negara lain. Jerman gratis karena dia potong belanja senjata. Singapura mahal tapi gajinya tinggi. Korea Selatan gratiskan lewat beasiswa dan utang yang dibayar setelah kerja. Semua punya model masing-masing untuk mencerdaskan rakyatnya, kita pilih model yang mana?.

Baca Juga:  Data Center sebagai Infrastruktur Ekonomi Strategis dan Tantangan Baru Hukum Persaingan Usaha Indonesia

Sementara Kita? Model kita: “Naikkan UKT, lalu kasih KIP 10%”. Itu namanya bukan solusi. Itu namanya ngelabui rakyat!

Jadi, bisa tidak Indonesia seperti Kuba? BISA. Dengan 3 bedah besar masalah:

1. Bedah Anggaran – Pendidikan naik jadi 7% PDB.
2. Bedah Korupsi – Potong semua kebocoran.
3. Bedah Mental – Negara harus malu punya anak pintar tapi tidak bisa kuliah.

Kesimpulan akhir: Kuliah gratis bukan utopia. Itu pilihan politik. Mau atau tidak.

Kalau negara masih bilang “tidak mampu”, padahal sanggup untuk bangun stadion, maka itu artinya: Negara ini tidak gagal. Negara ini tidak mau. Jangan sampai 2045 kita punya bonus demografi, isinya jutaan sarjana yang ijazahnya mahal, tapi nasibnya tetap buruh dan nganggur.

Facebook Comments Box

Penulis : Dr. Suriyanto. Pd., SH., MH., Mkn.

Editor : M Ridwan Sutardjo

Sumber Berita: gempardata.com

Follow WhatsApp Channel gempardata.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

JANGAN HANYA WACANA SAJA, PRESIDEN AKAN STOP PASOKAN GAS KE SINGAPURA
OPERASI SIKAT SEMERU 2026: POLRESTA SUMENEP UNGKAP 9 KASUS DAN AMANKAN 10 TERSANGKA
HUT ke-5 PKN di Gunung Padang, Gede Pasek Bidik Pemilu 2029: “Kita Harus Berhasil
Paradigma Baru, Wujudkan Mako Lebih Bersih Dan Asri Melalui Green Policing , Begini Pesan Kapolresta Sumenep 
Ageng Dendy Dorong Konsolidasi Pemuda, Satukan Langkah Menuju Indonesia Emas 2045
PA GMNI Perkuat Wacana Kebangsaan, Pramono Anung Dijadwalkan Berorasi Hari Ini
Beasiswa OAP Terlambat, Mahasiswa Terancam Molor Kuliah
Maruli Dilantik, PKN Lima Tahun: Pesan Kebangkitan dari Soegiarto Ketua PIMNAS GKN

Berita Terkait

Sabtu, 24 Oktober 2026 - 19:23 WIB

JANGAN HANYA WACANA SAJA, PRESIDEN AKAN STOP PASOKAN GAS KE SINGAPURA

Jumat, 23 Oktober 2026 - 21:59 WIB

OPERASI SIKAT SEMERU 2026: POLRESTA SUMENEP UNGKAP 9 KASUS DAN AMANKAN 10 TERSANGKA

Jumat, 23 Oktober 2026 - 16:25 WIB

HUT ke-5 PKN di Gunung Padang, Gede Pasek Bidik Pemilu 2029: “Kita Harus Berhasil

Jumat, 23 Oktober 2026 - 10:12 WIB

Paradigma Baru, Wujudkan Mako Lebih Bersih Dan Asri Melalui Green Policing , Begini Pesan Kapolresta Sumenep 

Senin, 19 Oktober 2026 - 07:28 WIB

PA GMNI Perkuat Wacana Kebangsaan, Pramono Anung Dijadwalkan Berorasi Hari Ini

Berita Terbaru